CARA
AGAR HIDUPMU DAMAI DI NEGERI INI
Teruntuk
adik-adikku di SMP dan SMA, jangan pernah bersuara. Jangan pernah percaya diri
untuk tampil berbeda. Jangan bersikap kritis. Jangan berpendapat. Jangan
suarakan keresahan kalian. Jangan berpikir macam-macam, apalagi sampai berani
mempertanyakan sebuah keadaan yang telah lama tertata.
Kalian
tahu, para orang dewasa itu kadang-kadang membingungkan. Mereka ingin negara
mereka maju, tapi suara yang menyeru kemajuan ramai-ramai dibungkam hanya
karena mereka tidak ingin ego mereka sebagai pihak-lebih-tua-yang-selalu-benar
akan terusik. Hanya karena mereka tidak mau posisi mereka sebagai orang yang
lebih superior tercabik.
Mereka
tidak mau dibangunkan dari tidur panjang, tak seorangpun ingin kehilangan
kenyamanan.
.
Wahai
adik-adikku yang akan memimpin para orang dewasa itu di negeri ini beberapa
tahun lagi,
Sekolah
ya sekolah saja. Datang, duduk, kerjakan tugas, ujian, pulang. Jangan berani
mengkritik sistem pendidikan, guru, atau peristiwa di sekitarmu. Kau hanyalah
bocah yang tak tahu apa-apa, lalu apa hakmu untuk bersuara?
Simpanlah
rasa keprihatinanmu untuk diri sendiri, jangan sampai mereka melumatmu
bertubi-tubi. Kalau bisa jadilah anak yang datar, yang biasa-biasa saja. Tak
banyak menarik perhatian, kujamin kau aman. Jadilah seperti umumnya anak-anak
lain yang memenuhi hapenya dengan foto selfie, menghabiskan waktu nongkrong di
kafe, eksis di mana-mana. Jangan sampai kalah penampilan sama teman-temanmu
itu. Bersenang-senanglah juga selagi muda, haha hihi chatting sama pacar, lalu
piknik kalau lagi jenuh. Hobi menulis atau membaca itu terlalu sederhana, tidak
memberi kebanggaan kalau dipamerkan ke teman. Dan curang atau nyontek saja
kalau kesulitan mengerjakan soal ujian, kemudian saat lulus corat-coret baju
dan konvoi di jalan raya.
Pada
akhirnya, saat kau punya rasa penasaran yang tidak terpuaskan, kau akan merasa
wajar ketika mencari obatnya dari lingkungan yang menggiringmu pada seks,
narkoba, dan kenakalan khas remaja. Bukankah juga banyak temanmu yang seperti
itu?
Jadi
adik-adikku,
Jangan
mikir yang berat-berat, apalagi belajar untuk jadi bijaksana dan berpemikiran
terbuka sejak usia muda. Karena alih-alih diapresiasi, kau mungkin akan dilumat
bertubi-tubi.
Tidak
usah.
.
Adik-adikku
para harapan bangsa,
Belakangan
ini seorang anak telah membuktikannya. Entah berapa ribu kali pesan penghakiman
telah dilontarkan orang. Entah berapa ribu kali ia dikatakan tidak pernah ngaji
atau tidak berpihak pada agama yang ia anut dengan keputusannya sediri.
Ia
memaparkan pandangan universal yang dipahami oleh semua agama, sedangkan
beberapa orang memberi tanggapan dan tandingan hanya dengan menggunakan
perspektif yang berasal dari keyakinannya sendiri. Dimana nyambungnya?
.
Justru
itulah yang coba anak itu sampaikan, mengapa beberapa orang memaksakan
kebenaran agamanya dan menutup mata bahwa orang lain pun juga meyakini hal yang
sama terhadap agamanya.
Apakah
kau menyadari bahwa tiap pemeluk di tiap agama itu sama taatnya, sama tulusnya,
dan sama yakinnya denganmu?
Apakah
kau sadar bahwa masing-masing juga punya kitab yang menurut versi mereka adalah
sebuah kebenaran yang tak terbantahkan?
Apakah
kau sadar bahwa mereka juga bisa membela imannya dengan kegigihan yang sama?
Apa
yang coba ia sampaikan hanyalah untuk menjaga kerukunan, hanyalah untuk
menghormati klaim kebenaran versi sendiri-sendiri. Tuhan menciptakan kita
dengan pikiran yang berbeda, tidak diseragamkan sesuai kehendak orang yang
(cuma) merasa jadi wakil-Nya.
.
Ia
hanya menyampaikan bahwa bersikap takwa dan setia pada agama tidak harus dengan
mendiskreditkan keyakinan yang berbeda.
Betapa
susahnya memahami hal sesederhana itu saja, sampai-sampai bullyan tak hentinya
datang.
.
Adik-adikku
sayang,
Ingatlah
yang kakak sampaikan.
Jangan
terlalu tinggi harapan! Kau lihat sendiri, di negeri ini,
Korupsi,
rusak moral, dan sepi nalar tidak apa-apa, asalkan kau tidak berkata terlampau
jujur terhadap realita.
©
Afi Nihaya Faradisa
Komentar
Posting Komentar